Posted: January 30, 2011 in Uncategorized

presentation tt

ilmu textil surfaktan

Posted: January 13, 2011 in Uncategorized

Surfaktan (surface active agents), zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus. Sabun merupakan salah satu contoh dari surfaktan. Molekul surfaktan mempunyai dua ujung yang terpisah, yaitu ujung polar (hidrofilik) dan ujung non polar (hidrofobik) . Surfaktan dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu surfaktan yang larut dalam minyak dan surfaktan yang larut dalam air.

1. Surfaktan yang larut dalam minyak

Ada tiga yang termasuk dalam golongan ini, yaitu senyawa polar berantai panjang, senyawa fluorokarbon, dan senyawa silikon.

2. Surfaktan yang larut dalam pelarut air

Golongan ini banyak digunakan antara lain sebagai zat pembasah, zat pembusa, zat pengemulsi, zat anti busa, detergen, zat flotasi, pencegah korosi, dan lain-lain. Ada empat yang termasuk dalam golongan ini, yaitu surfaktan anion yang bermuatan negatif, surfaktan yang bermuatan positif, surfaktan nonion yang tak terionisasi dalam larutan, dan surfaktan amfoter yang bermuatan negatif dan positif bergantung pada pH-nya.

Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan hidrogen pada permukaan. Hal ini dilakukan dengan menaruh kepala-kepala hidrofiliknya pada permukaan air dengan ekor-ekor hidrofobiknya terentang menjauhi permukaan air. Sabun dapat membentuk misel (micelles), suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul sabun bersifat hidrofobik dan larut dalam zat-zat non polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam air, tetapi dengan mudah akan tersuspensi di dalam air.

Sifat Larutan Yang Mengandung Surfaktan

Larutan surfaktan dalam air menunjukkan perubahan sifat fisik yang mendadak pada daerah konsentrasi yang tertentu. Perubahan yang mendadak ini disebabkan oleh pembentukan agregat atau penggumpalan dari beberapa molekul surfaktan menjadi satu, yaitu pada konsentrasi kritik misel (CMC) .

Pada konsentrasi kritik misel terjadi penggumpalan atau agregasi dari molekul-molekul surfaktan membentuk misel. Misel biasanya terdiri dari 50 sampai 100 molekul asam lemak dari sabun Sifat-sifat koloid dari larutan elektrolit sodium dedosil sulfat dapat dilihat pada gambar 2.4, dibawah ini:

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai cmc, untuk deret homolog surfaktan rantai hidrokarbon, nilai cmc bertambah 2x dengan berkurangnya satu atom C dalam rantai. Gugus aromatik dalam rantai hidrokarbon akan memperbesar nilai cmc dan juga memperbesar kelarutan. Adanya garam menurunkan nilai cmc surfaktan ion. Penurunan cmc hanya bergantung pada konsentrasi ion lawan, yaitu makin besar konsentrasinya makin turun cmc-nya.Secara umum misel dibedakan menjadi dua, yaitu: struktur lamelar dan sterik seperti telihat pada gambar dibawah ini:

Struktur misel, (a) sterik (b) lamelar

Cara Penentuan CMC

Karena pada cmc terjadi penggumpalan dari molekul surfaktan, maka cara penentuan cmc dapat menggunakan cara-cara penentuan besaran fisik yang menunjukkan perubahan dari keadaan ideal menjadi tak ideal. Di bawah cmc larutan menjadi bersifat ideal. Sedangkan diatasnya cmc larutan bersifat tak ideal. Besaran fisik yang dapat digunakan ialah tekanan osmosa, titik beku larutan, hantaran jenis atau hantaran ekivalen, kelarutan solubilisasi, indeks bias, hamburan cahaya, tegangan permukaan, dan tegangan antarmuka.

Literatur :

Adamsons, Arthur W. 1982. Physical Chemistry of Surface. A wiley-Interscience Publication, United State of America.

ilmu textil ragam serat

Posted: January 13, 2011 in Uncategorized

Polyester

Polyester ditemukan pertama kali pada tahun 1953 oleh E.I du Pont de Nemours di USA. Polyester terbuat dari butiran plastik (chips) dan mengalami suatu proses kimiawi yang panjang, dari pembuatan benang sampai menjadi bahan kain.

Ciri dan karakteristik polyester, antara lain adalah :

Ø Bahan terasa panas dibadan

Ø Tidak menyerap keringat

Ø Apabila kulit anda sensitive dan bermasalah, dianjurkan supaya tidak memakai bahan pure polyester karena akan memperparah kondisi kulit.

Ø Noda minyak dan noda makanan susah dihilangkan dari pakaian

Ø Tahan direndam dalam air lebih dari 3 jam

Bahan polyester memiliki daya tahan yang kuat. Kelemahannya adalah karena sifat bahan terasa panas dibadan.

Untuk menghindari sifatnya yang panas, para produsen tekstil melakukan pencampuran dengan viscose, dengan cotton atau dengan linen dan dengan bahan lainnya.

Linen

Linen merupakan bahan kain tertua didunia dan sudah dipakai sejak Zaman Batu (Stone Age). Bahan dasarnya terbuat dari sejenis pohon rami

Ciri dan karakteristik Linen, antara lain adalah :

Ø Bahannya kaku dan dingin

Ø Permukaan kain agak kasar

Ø Menyerap keringat

Ø Kekuatannya empat kali lebih kuat dari katun

Ø Rentan terhadap jamur

Ø Kain akan rusak apabila direndam lebih dari 1 jam

Ø Tahan terhadap panas sampai 450 0 F

Bahannya yang kaku dan dingin, maka linen sangat pas untuk produk – produk casual wear dan dresses

Sutera

Sutera ditemukan pada 2640 B.C (sebelum tahun masehi) di China. Bahan dasarnya adalah kepompong. Secara lengkap, asal usul dan proses pemeliharaan dan pembuatan sutera adalah sebagai berikut :

Satu sore Permaisuri His Ling Shih dari kerajaan China asik menikmati secangkir the panas dibawah keteduhan pohon mulberry. Putri yang hidup 2640 sebelum masehi ini dikejutkan dengan jatuhnya kepompong ulat sutera ke dalam cangkir teh.

Beberapa detik kemudian kekagetannya berubah menjadi kekaguman melihat kehalusan serat yang terurai dari kepompong tersebut. Permaisuripun meminta para dayang mengumpulkan lebih banyak kepompong yang kemudian diternakkan dan ditenun secara rahasia di balik tembok istana hingga 3000 tahun berikutnya.

Walaupun hukuman mati dikenakan pada mereka yang membawa telur ulat sutera keluar China, pada abad enam Masehi dua orang biksu berhasil menyelundupkan bibit pohon mulberry beserta telur ulat sutera. Tak pelak beberapa negara lain mulai memproduksi dan memperjualbelikan kain sutera. Antara lain India, Jepang dan Perancis.

Mengingat sejarahnya, setiap kali bicara soal sutera kita pasti teringat pada negeri China. Tak heran jika dikalangan komunitas mode Paris, bahkan dunia, sutera dikenal dengan sebutan Crepe de Chine, Crepe dari Cina.

Kini sutera dapat diproduksi di seluruh dunia. Hanya saja kualitas suteranya berbeda – beda tergantung jenis ulat yang memproduksi kepompong. Ulat sutera yang diternakkan (Cultivated) di sericulture (peternakan ulat sutera) diberi makan daun mulberry yang dipercaya membantu pembentukan liur ulat yang bening. Dengan begitu kepompongnya menghasilkan serat yang sangat tipis dan mengkilat.

Dari sebuah kepompong dapat dihasilkan serat sutera yang panjangnya mencapai ribuan meter. Warna asli serat sutera pun beragam, seperti putih, cream, kuning dan kecoklatan. Cultivated silk menghasilkan kain sutera yang halus dan mengkilat permukaannya seperti brocade, chiffon, habutae, tafetta dan organdi.

Jenis ulat lain adalah ulat sutera liar atau tussah yang hidup di hutan. Karena ulat jenis ini memakan daun pohon oak dan daun – daun liar yang terdapat dihutan, serat yang dihasilkan kepompong ini tidak sehalus dan semengkilat cultivated silk. Warnanya pun cenderung kecoklatan. Kain sutera yang dihasilkan tussah silk pun memiliki tekstur yang sedikit kasar dan berserat (slubby), seperti shantung dan Dupont.

Dalam 4 – 6 hari ulat sutera (Bombyxmori) dapat bertelur lebih dari 500 telur lalu mati. Berat 100 telur hanya 1 gram. Satu ons telur berasal dari sekitar 30.000 ulat sutera yang mengkonsumsi 1 ton daun mulberry dan menghasilkan sekitar 6 kg serat sutera. Karena produksi tussah tidak dapat diprediksi, kebanyakan produser sutera masih mengandalkan cultivated silk.

Dua hal yang harus diperhatikan untuk mendapatkan sutera berkualitas, yaitu mencegah penetasan larva dan menjaga ketersediaan jumlah daun mulberry yang dikonsumsi ulat sutera. Sebagai gambaran dibawah ini diceritakan secara singkat proses produksi serat sutera :

1. Telur disimpan pada suhu 65 0F dan secara berangsur dinaikkan sampai 77 0F. Setelah menetas, ulat diberi irisan daun mulberry segar setiap setengah jam dengan tetap menjaga temperaturnya. Ribuan ulat sutera ini diletakkan saling menumpuk dalam satu tempat. Dalam waktu satu bulan berat mereka akan berlipat 10.000 kali. Mereka juga berganti kulit dan warna.

2. bayi – bai ulat terus diberi makan hingga mereka siap menjadi kepompong. Selama masa pertumbuhan mereka harus dijauhkan dari suara bising, bau yang mnyengat seperti ikan dan bahkan bau keringat. Saat memiliki kepompong, ulat sutera mengeluarkan liur seperti jelly yang membuat serat – serat sutera menempel satu sama lain. Ulat sutera menghabiskan waktu 3 – 4 hari untuk menggulung diri sampai berbentuk bola putih.

3. setelah 8 – 9 hari berada ditempat yang hangat, kepompong di kukus atau di panggang agar ulatnya mati. Lalu kepompong dicelupkan ke dalam air panas guna memisahkan serat – serat yang menyatu. Selanjutnya serat dipintal menjadi benang yang siap diproses menjadi benang tenun atau sulam.

Sutera dengan segala kehalusannya membutuhkan cara perawatan khusus untuk menjaga keawetan kain atau busana.

Dibawah ini ada beberapa tips bagaimana seharusnya kita merawat sutera :

1. Segera cuci sutera yang terkena keringat, sebab bila dibiarkan, asam dan garam dalam keringat akan membuat sutera menjadi kuning.

2. hindari menjemur sutera dibawah sinar matahari langsung. Cukup diangin – anginkan ditempat teduh untuk mengeringkannya sehabis dicuci

3. sutera hanya bisa dicuci dengan tangan. Jangan menggunakan mesin cuci karena akan merusak kehalusan seratnya.

4. gunakan jasa dry cleaner bila anda tidak mempunyai waktu untuk mencuci. Perchlorothelyne yang digunakan pada proses dry cleaning cukup aman bagi sutera

5. balik busana saat menyeterika sutera. Gunakan temperatur rendah. Bila perlu alasi bagian yang diseterika dengan kain lain.

Sutera banyak disukai karena jenis bahannya yang lembut hingga diidentikkan dengan wanita dan cinta.

Ciri dan karakteristik Sutera antara lain adalah :

Ø Sangat lembut dikulit, glamours dan bahannya jatuh (flowing)

Ø Menyerap keringat

Ø Untuk perawatan, baju harus di dry cleaning supaya kualitas warna dan kekuatan bahan bertahan lama

Ø Sangat rentan terhadap ngengat

Ø Dalam proses pencucian tidak menggunakan kaporit

Bahan sutera sangat cocok untuk busana – busana party dress, scraft ataupun blouse. Sutera masih terbilang bahan yang mahal dan tidak mudah diperoleh, terutama kain atau benang sutera berkualitas tinggi. Produksi sutera Indonesia tidak signifikan jumlahnya, dan masih dikembangkan atau diproduksi secara terbatas. Sebagian desainer perlu membuat home industries sendiri untuk mengolah sutera ini. Sutera terbaik dihasilkan oleh China yang juga merupakan penemu pertama bahan ini. China juga merupakan penghasil sutera terbesar di Dunia, dan sebagian kecil Japan dan Thailand.

Viscose

Tinggal di daerah tropis dengan temperatur yang cukup panas, humadity, membuat tubuh mudah berkeringat, baju akan kelihatan basah dan tidak jarang menimbulkan bau kurang sedap. Salah satu sumber ketidaknyamanan berpakaian tidak lain adalah jenis kain untuk bahan pakaian kita.

Berbagai jenis dan karakter kain menjadi bahan pakaian sehari – hari kita kenakan. Mulai dari viscose, katun, polyester, sutera, linen, sampai yang mix antara katun dan polyester atau antara viscose dan polyester. Penelitian yang dikembangkan beberapa tahun terakhir, menunjukkan terdapat beberapa jenis dan karakter kain yang cocok dipakai didaerah tropis, yaitu katun, viscose, sutera, linen atau campuran bahan antara katun dan polyester atau viscose dan polyester.

Viscose, pertama kali diproduksi secara besar – besaran di USA pada tahun 1910. bahan dasarnya adalah kayu (eucalyptus – sejenis pohon pinus). Ciri – ciri bahan viscose antara lain :

Ø terasa lembut dan dingin di kulit

Ø bahannya jatuh, tidak kaku dan warnanya mengkilat

Ø menyerap keringat

Ø pakaian / bahan akan rusak apabila direndam dengan diterjen lebih dari 1 jam.

Ø Bisa dicuci atau di dry clean

Ø Noda dari makanan atau minyak akan mudah hilang dengan menggunakan diterjen

Ø Supaya tidak mudah kusut, tambahkan pelembut yang mengandung kanji pada akhir proses pencucian.

Dengan kelenturan yang dimiliki, bahan viscose dapat didesain untuk berbagai model busana, mulai dari busana pesta, casual wear, lingerie, underwear hingga jaket.

Katun (cotton)

Katun ditemukan di USA sekitar lebih dari 5000 tahun yang lalu. Bahan ini sudah sangat familiar di daerah tropis seperti Indonesia. Perkebunan Kapas ada di beberapa negara antara lain, China, Pakistan, India, Mesir, Australia dan yang terbesar adalah di Amerika.

Katun memiliki karakteristik bahan yang khas dengan ciri – ciri antara lain :

Ø Bahan terasa dingin dan sedikit kaku.

Ø Menyerap keringat

Ø Pakaian atau kain akan rusak bila direndam lebih dari 2 jam

Ø Noda dari makanan dan minyak akan mudah hilang dengan menggunakan detergent

Ø Bisa dicuci atau di dry clean

Ø Rentan terhadap jamur

Janis katun jangan dibiarkan basah terlalu lama. Demikian juga pada saat kain direndam ditambahkan satu sendok cairan pemutih (untuk satu baju) agar baju berwarna putih bertahan lama dan tidak kusam.

Melihat jenis dan karakter bahan katun, maka bisa dibentuk menjadi pakaian apa saja, mulai dari kasual wear, jaket, pant, skirt, sporty wear, sleep wear hingga under wear..

dari http://abikover.multiply.com/journal/item/10

Posted: May 30, 2010 in Uncategorized

jenis jenis dan kandungan dari vitamin

ilmu SENYAWA HIDROKARBON

Posted: May 21, 2010 in Uncategorized

SENYAWA HIDROKARBON

Disebut Hidrokarbon : mengandung unsur C dan H

Terdiri dari : 1. Alkana (CnH2n+2)

2. Alkena (CnH2n)

3. Alkuna (CnH2n-2)

ALKANA

q      Hidrokarbon jenuh (alkana rantai lurus dan siklo/cincin alkana)

q      Disebut golongan parafin : affinitas kecil (=sedikit gaya gabung)

q      Sukar bereaksi

q      C1 – C4 : pada t dan p normal adalah gas

q      C4 – C17 : pada t dan p normal adalah cair

q          >  C18 : pada t dan p normal adalah padat

q      Titik didih makin tinggi : terhadap penambahan unsur C

q      Jumlah atom C sama : yang bercabang mempunyai TD rendah

q      Kelarutan : mudah larut dalam pelarut non polar

q      BJ naik dengan penambahan jumlah unsur C

q      Sumber utama gas alam dan petrolium

Struktur ALKANA : CnH2n+2 CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3 (heksana)

sikloheksana

PEMBUATAN ALKANA :

Ø    Hidrogenasi senyawa Alkena

Ø    Reduksi Alkil Halida

Ø    Reduksi metal dan asam

PENGGUNAAN ALKANA :

ä     Metana : zat bakar, sintesis, dan carbon black (tinta,cat,semir,ban)

ä     Propana, Butana, Isobutana : zat bakar LPG (Liquified Petrolium Gases)

ä     Pentana, Heksana, Heptana : sebagai pelarut pada sintesis

Fraksi tertentu dari Destilasi langsung Minyak Bumi/mentah

TD (oC)

Jumlah C

Nama Penggunaan
< 30 1 – 4 Fraksi gas Bahab bakar gas
30 – 180 5 -10 Bensin Bahan bakar mobil
180 – 230 11 – 12 Minyak tanah Bahan bakar memasak
230 – 305 13 – 17 Minyak gas ringan Bahan bakar diesel
305 – 405 18 – 25 Minyak gas berat Bahan bakar pemanas

Sisa destilasi :

1.     Minyak mudah menguap, minyak pelumas, lilin dan vaselin

2.     Bahan yang tidak mudah menguap, aspal dan kokas dari m. bumi

ALKENA

q      Hidrokarbon tak jenuh ikatan rangkap dua

q      Alkena = olefin (pembentuk minyak)

q      Sifat fisiologis lebih aktif (sbg obat tidur) : 2-metil-2-butena

q      Sifat sama dengan Alkana, tapi lebih reaktif

STRUKTUR ALKENA  : CnH2n CH3-CH2-CH=CH2 (1-butena)

ETENA = ETILENA = CH2=CH2

q      Sifat-sifat : gas tak berwarna, dapat dibakar, bau yang khas, eksplosif dalam udara (pada konsentrasi 3 – 34 %)

q      Terdapat dalam gas batu bara biasa pada proses “cracking”

q      Pembuatan : pengawahidratan etanaol

PENGGUNAAN ETENA :

ä     Dapat digunakan sebagai obat bius (dicampur dengan O2)

ä     Untuk memasakkan buah-buahan

ä     Sintesis zat lain (gas alam, minyak bumi, etanol)

PEMBUATAN ALKENA :

Ø    Dehidrohalogenasi alkil halida

Ø    Dehidrasi alkohol

Ø    Dehalogenasi dihalida

Ø    Reduksi alkuna

ALKUNA

q      Hidrokarbon tak jenuh mempunyai ikatan rangkap tiga

q      Sifat-sifatnya menyerupai alkena, tetapi lebih reaktif

Struktur ALKUNA :    CnH2n-2 CH=CH (etuna/asetilen)

ETUNA = ASETILEN =>   CH=CH

q      Pembuatan : CaC2 + H2O ——à C2H2 + Ca(OH)2

q      Sifat-sifat :

Ø    Suatu senyawaan endoterm, maka mudah meledak

Ø    Suatu gas, tak berwarna, baunya khas

q      Penggunaan etuna :

Ø    Pada pengelasan : dibakar dengan O2 memberi suhu yang tinggi (+- 3000oC), dipakai untuk mengelas besi dan baja

Ø    Untuk penerangan

Ø    Untuk sintesis senyawa lain

PEMBUATAN ALKUNA

Ø    Dehidrohalogenasi alkil halida

Ø    Reaksi metal asetilida dengan alkil halida primer

SENYAWA AROMATIK

q      Senyawa alifatis : turunan metana

q      Senyawa aromatis : turunan benzen (simbol Ar = aril)

q      Permulaan abad ke-19 ditemukan senyawa-senyawa organik yang mempunyai bau (aroma) yang karakteristik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (damar benzoin, cumarin, asam sinamat dll)

BENZEN =C6H6

q      Senyawa aromatis yang paling sederhana

q      Berasal dari batu bara dan minyak bumi

q      Sifat fisika : cairan, td. 80oC, tak berwarna, tak larut dalam air, larut dalam kebanyakan pelarut organik, mudah terbakar dengan nyala yang berjelaga dan berwarna (karena kadar C tinggi)

Pengunaan Benzen :

Ø    Dahulu sebagai bahan bakar motor

Ø    Pelarut untuk banyak zat

Ø    Sintesis : stirena, fenol, nilon, anilin, isopropil benzen, detergen, insektisida, anhidrida asam maleat, dsb

ALKIL HALIDA

q      Senyawa alkil halida merupakan senyawa hidrokarbon baik jenuh maupun tak jenuh yang satu unsur H-nya atau lebih digantikan oleh unsur halogen (X = Br, Cl. I)

q      Alkil halida = haloalkana = RX  struktur primer, sekunder, tersier

q      Aril halida = ArX = senyawa halogen organik aromatik

Sifat fisika Alkil Halida :

¨     Mempunyai TD lebih tinggi dari pada TD Alkana dengan jumlah unsur C yang sama.

¨     Tidak larut dalam air, tapi larut dalam pelarut organik tertentu.

¨     Senyawa-senyawa bromo, iodo dan polikloro lebih berat dari pada air.

Struktur Alkil Halida : R-X (X=Br, Cl, I)

CH3-CH2-CH2-CH2-Cl                (CH3)2CH-Br                   (CH3)3C-Br

Primer                            sekunder                              tersier

CH2-Cl                            CH2=CH2-Cl

Benzil khlorida                                  Vinil khlorida

PEMBUATAN ALKIL HALIDA :

Ø    Dari alkohol

Ø    Halogenasi

Ø    Adisi hidrogen halida dari alkena

Ø    Adisi halogen dari alkena dan alkuna

PENGGUNAAN ALKIL HALIDA :

ä     Kloroform (CHCl3) : pelarut untuk lemak, obat bius (dibubuhi etanol, disimpan dalam botol coklat, diisi sampai penuh).

ä     Tetraklorometana = karbontetraklorida (CCl4) : pelarut untuk lemak, alat pemadam kebakaran (Pyrene, TD rendah 77oC, uapnya berat.

ä     Freon (Freon 12 = CCl2F2, Freon 22 = CHCl2F) : pendingin lemari es, alat “air conditioner”, sebagai propellant (penyebar) kosmetik, insektisida, dsb.

ALKOHOL

q      Alkohol : tersusun dari unsur C, H, dan O

q      Struktur alkohol : R-OH primer, sekunder dan tersier

Sifat fisika alkohol :

  • TD alkohol > TD alkena dengan jumlah unsur C yang sama   (etanol = 78oC, etena = -88,6oC)
  • Umumnya membentuk ikatan hidrogen

O – H—————–O – H

R                          R

  • Berat jenis alkohol > BJ alkena
  • Alkohol rantai pendek (metanol, etanol) larut dalam air (=polar)

Struktur Alkohol : R – OH

R-CH2-OH                       (R)2CH-OH                     (R)3C-OH

Primer                            sekunder                        tersier

PEMBUATAN ALKOHOL :

Ø    Oksi mercurasi – demercurasi

Ø    Hidroborasi – oksidasi

Ø    Sintesis Grignard

Ø    Hidrolisis alkil halida

PENGGUNAAN ALKOHOL :

ä     Metanol : pelarut, antifreeze radiator mobil, sintesis formaldehid,metilamina,metilklorida,metilsalisilat, dll

ä     Etanol : minuman beralkohol, larutan 70 % sebagai antiseptik, sebagai pengawet, dan sintesis eter, koloroform, dll

FENOL

q      Fenol : mengandung gugus benzen dan hidroksi

q      Mempunyai sifat asam

q      Mudah dioksidasi                    struktur                              OH

q      Mempunyai sifat antiseptik

q      Penggunaan sbg antiseptikum dan sintesis

ETER

q      Eter : isomer atau turunan dari alkohol (unsur H pada OH diganti oleh alkil atau aril)

q      Eter : mengandung unsur C, H, dan O

al>Sifat fisika eter :

  • Senyawa eter rantai C pendek berupa cair pada suhu kamar dan TD nya naik dengan penambahan unsur C.
  • Eter rantai C pendek medah larut dalam air, eter dengan rantai panjang sulit larut dalam air dan larut dalam pelarut organik.
  • Mudah terbakar
  • Unsur C yang sama TD eter > TD alkana dan < TD alkohol (metil, n-pentil eter 100oC, n-heptana 98oC, heksil alkohol 157oC).

Struktur eter : R – O – R     CH3-CH2-O-CH2-CH3 (dietil eter)

CH3-CH2-O-C6H5 (fenil etil eter)

PEMBUATAN ETER :

Ø    Sintesis Williamson

Ø    Alkoksi mercurasi – demercurasi

PENGGUNAAN ETER :

ä       Dietil eter : sbg obat bius umum, pelarut dari minyak, dsb.

ä       Eter-eter tak jenuh : pada opersi singkat : ilmu kedokteran gigi dan ilmu kebidanan.

AMINA

q      Senyawa organik bersifat basa lemah, dibanding air lebih basa.

q      Jumlah unsur C kecil sangat mudah larut dalam air.

Sifat fisika Amina :

  • Suku-suku rendah berbentuk gas.
  • Tak berwarna, berbau amoniak, berbau ikan.
  • Mudah larut dalam air
  • Amina yang lebih tinggi berbentuk cair/padat.
  • Kelarutan dalam air berkurang dengan naiknya BM.

Struktur amina : R-NH2, (R)2NH, (R)3N =primer, sekunder, tersier

CH3-CH2-CH2-CH2-NH2 (CH3)2NH                        (CH3)3N

Primer                            sekunder                              tersier

Struktur Amina berdasarkan rantai gugus alkil/aril :

  • Amina aromatis
  • Amina alifatis
  • Amina siklis
  • Amina campuran

PEMBUATAN AMINA :

Ø    Reduksi senyawa nitro

Ø    Reaksi alkil halida dengan amonia dan amina

PENGGUNAAN AMINA :

ä       Sebagai katalisator

ä       Dimetil amina : pelarut, absorben gas alam, pencepat vulkanisasi, membuat sabun, dll.

ä       Trimetil amina : suatu penarik serangga.

ALDEHID

q      Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung gugus karbonil (C=O) yang terikat pada sebuah atau dua buah unsur hidrogen.

q      Aldehid berasal dari “ alkohol dehidrogenatum “ (cara sintesisnya).

q      Sifat-sifat kimia aldehid dan keton umumnya serupa, hanya berbeda dalam derajatnya. Unsur C kecil larut dalam air (berkurang + C).

q      Merupakan senyawa polar, TD aldehid > senyawa non polar

q      Sifat fisika formaldehid : suatu gas yang baunya sangat merangsang

q      Akrolein = propanal = CH2=CH-CHO : cairan, baunya tajam, sangat reaktif.

FORMALDEHID = METANAL = H-CHO

¨     Sifat-sifat : satu-satunya aldehid yang berbentuk gas pada suhu kamar, tak berwarna, baunya tajam, larutanya dalam H2O dari   40 %  disebut formalin.

¨     Penggunaan : sebagai desinfektans, mengeraskan protein (mengawetkan contoh-contoh biologik), membuat damar buatan.

Struktur Aldehid : R – CHO

PEMBUATAN ALDEHID :

Ø    Oksidasi dari alkohol primer

Ø    Oksidasi dari metilbenzen

Ø    Reduksi dari asam klorida

KETON

q      Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil (C=O) terikat pada dua gugus alkil, dua gugus aril atau sebuah alkil dan sebuah aril.

q      Sifat-sifat sama dengan aldehid.

PROPANON = DIMETIL KETON = ASETON = (CH3)2-C=O

¨     Sifat : cairan tak berwarna, mudah menguap, pelarut yang baik.

¨     Penggunaan : sebagai pelarut

ASETOFENON = METIL FENIL KETON

¨     Sifat : berhablur, tak berwarna

¨     Penggunaan : sebagai hipnotik, sebagai fenasil klorida (kloroasetofenon) dipakai sebagai gas air mata

Struktur : (R)2-C=O

PEMBUATAN KETON

Ø    Oksidasi dari alkohol sekunder

Ø    Asilasi Friedel-Craft

Ø    Reaksi asam klorida dengan organologam

ASAM KARBOKSILAT

q      Mengandung gugus COOH yang terikat pada gugus alkil (R-COOH) maupun gugus aril (Ar-COOH)

q      Kelarutan sama dengan alkohol

q      Asam dengan jumlah C 1 – 4       : larut dalam air

q      Asam dengan jumlah C = 5           : sukar larut dalam air

q      Asam dengan jumlah C > 6           : tidak larut dalam air

q      Larut dalam pelarut organik seperti eter, alkohol, dan benzen

q      TD asam karboksilat > TD alkohol dengan jumlah C sama.

Struktur  Asam Karboksilat : R – COOH dan Ar – COOH

CH3-CH2-CH2-CH2-COOH                                      COOH

Valelat

CH3-COOH (asam asetat)                  Asam benzoat

ASAM FORMAT = HCOOH

¨     Sifat fisika : cairan, tak berwarna, merusak kulit, berbau tajam, larut dalam H2O dengan sempurna.

¨     Penggunaan : untuk koagulasi lateks, penyamakkan kulit, industri tekstil, dan fungisida.

ASAM ASETAT = CH3-COOH

¨     Sifat : cair, TL 17oC, TD 118oC, larut dalam H2O dengan sempurna

¨     Penggunaan : sintesis anhidrat asam asetat, ester, garam, zat warna, zat wangi, bahan farmasi, plastik, serat buatan, selulosa dan sebagai penambah makanan.

PEMBUATAN ASAM KARBOKSILAT

Ø    Oksidasi alkohol primer

Ø    Oksidasi alkil benzen

Ø    Carbonasi Reagen Grignard

Ø    Hidrolisin nitril

AMIDA

q      Amida adalah turunan asam karboksilat, dimana gugus –OH digan-ti dengan –NH2 atau amoniak, dimana 1 H diganti dengan asil.

q      Sifat fisika : zat padat kecuali formamida yang berbentuk cair, tak berwarna, suku-suku yang rendah larut dalam air, bereaksi kira-kira netral.

Struktur Amida : R – CONH2

PEMBUATAN AMIDA :

Ø    Reaksi asam karboksilat dengan amoniak

Ø    Garam amoniumamida dipanaskan

Ø    Reaksi anhidrid asam dengan amponiak

PENGGUNAAN AMIDA :

ä       Formamida berbentuk cair, sebagai pelarut.

ä       Untuk identifikasi asam yang berbentuk cair.

ä       Untuk sintesis nilon, ds.

ESTER

q      Ester adalah turunan asam karboksilat, dimana gugus H pada –OH diganti dengan gugus R.

q      Sifat fisika : berbentuk cair atau padat, tak berwarna, sedikit larut dalm H2O, kebanyakan mempunyai bau yang khas dan banyak terdapat di alam.

Struktut ester : R – COOR

PEMBUATAN ESTER :

Ø    Reaksi alkohol dan asam karboksilat

Ø    Reaksi asam klorida atau anhidrida

PENGGUNAAN ESTER :

ä       Sebagai pelarut, butil asetat (pelarut dalam industri cat).

ä       Sebagai zat wangi dan sari wangi.

//

//

ilmu Pencemaran air

Posted: May 21, 2010 in Uncategorized

Pencemaran air

Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.

1.Pengertian Air bersih

Air bersih itu pengertiannya air yang memenuhi persyaratan untuk pengairan sawah, untuk treatment air minum dan untuk treatmen air sanitasi. Persyaratan disini ditinjau dari persyaratan kandungan kimia, fisika dan biologis.

Pengertian Air Persih:

1. Secara Umum: Air yang aman dan sehat yang bisa dikonsumsi manusia.

2. Secara Fisik : Tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.

3. Secara Kimia:

a.PH netral (bukan asam/basa)

b.Tidak mengandung racun dan logam berat berbahaya.

c.Parameter-parameter seperti BOD, COD,DO, TS,TSS dan konductiviti memenuhi     aturan pemerintah setempat.

2.Parameter Kualitas Air

EKesadahan (Hardness)

Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air akan dapat membentuk busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa. Kesadahan sangat penting artinya bagi para akuaris karena kesadahan merupakan salah satu petunjuk kualitas air yang diperlukan bagi ikan.  Tidak semua ikan dapat hidup pada nilai kesadahan yang sama. Dengan kata lain, setiap jenis ikan memerlukan prasarat nilai kesadahan pada selang tertentu untuk hidupnya.  Disamping itu, kesadahan juga merupakan petunjuk yang penting dalam hubungannya dengan usaha untuk memanipulasi nilai pH.

Secara lebih rinci kesadahan dibagi dalam dua tipe, yaitu: (1) kesadahan umum (”general hardness” atau GH) dan (2) kesadahan karbonat (”carbonate hardness” atau KH). Disamping dua tipe kesadahan tersebut,  dikenal pula tipe kesadahan yang lain yaitu yang disebut sebagai  kesadahan total atau total hardness.   Kesadahan total merupakan penjumlahan dari GH dan KH.

Penggunaan paramater kesadahan total sering sekali membingungkan, oleh  karena itu, sebaiknya penggunaan parameter ini  dihindarkan.

GH

Kesadahan umum atau “General Hardness” merupakan ukuran yang menunjukkan jumlah ion kalsium (Ca++) dan ion magnesium (Mg++) dalam air. Ion-ion lain sebenarnya ikut pula mempengaruhi nilai GH, akan tetapi pengaruhnya diketahui sangat kecil dan relatif sulit diukur sehingga diabaikan.

GH pada umumnya dinyatakan dalam satuan ppm (part per million/ satu  persejuta bagian) kalsium karbonat (CaCO3), tingkat kekerasan (dH), atau dengan menggunakan konsentrasi molar CaCO3. Satu satuan kesadahan Jerman atau dH sama dengan 10 mg CaO (kalsium oksida) per liter air.  Di Amerika, kesadahan pada umumnya menggunakan satuan ppm CaCO3, dengan demikian satu satuan Jerman (dH) dapat diekspresikan sebagai 17.8 ppm CacO3.  Sedangkan satuan konsentrasi  molar dari 1 mili ekuivalen  = 2.8 dH = 50 ppm.  Perlu diperhatikan bahwa kebanyakan teskit pengukur kesadahan menggunakan  satuan CaCO3. Untuk lebih jelasnya bacalah petunjuk pembacaan pada teskit yang anda miliki untuk mengetahui dengan pasti satuan pengukuran yang digunakan, untuk menghindari terjadinya kesalahan pembacaan.

Berikut adalah kriteria selang kesadahan yang biasa dipakai:

0  –   4 dH,     0 –   70 ppm : sangat rendah (sangat lunak)

4 –   8 dH,   70 – 140 ppm  : rendah (lunak)

8 – 12 dH, 140 – 210 ppm  : sedang

12 – 18 dH, 210 – 320 ppm  : agak tinggi (agak keras)

18 – 30 dH, 320 – 530 ppm  : tinggi (keras)

Dalam kaitannya dengan proses biologi, GH lebih penting peranananya dibandingkan dengan KH ataupun  kesadahan total   Apabila ikan atau tanaman dikatakan memerlukan air dengan kesadahan tinggi (keras)  atau rendah (lunak), hal ini pada dasarnya mengacu kepada GH.  Ketidaksesuaian GH akan mempengaruhi transfer hara/gizi dan hasil sekresi melalui membran dan dapat mempengaruhi kesuburan,  fungsi organ dalam (seperti ginjal), dan pertumbuhan.  Setiap jenis  ikan memerlukan  kisaran  kesadahan (GH)  tertentu untuk hidupnya. Pada umumnya, hampir semua jenis ikan dan tanaman dapat beradaptasi dengan kondisi GH lokal, meskipun demikian,  tidak demikian halnya dengan proses pemijahan.  Pemijahan bisa gagal apabila dilakukan pada nilai GH yang tidak tepat.

Apabila nilai GH terlalu rendah bagi suatu jenis ikan, ia dapat dinaikan dengan menambahkan kalsium sulfat, magnesium sulfat, atau kalsium karbonat.   Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa penambahan garam-garam tersebut membawa dampak lain yang perlu medapat perhatian. Pemberaian garam sulfat akan memberikan tambahan sulfat kedalam air, sehingga perlu dilakukan dengan hati-hati.  Sedangkan penambahan garam karbonat akan menyumbangkan ion karbonat kedalam air sehingga akan menaikkan KH.  Untuk mendapat kondisi yang diinginkan perlu dilakukan manipulasi dengan kombinasi pemberian yang sesuai.

Penurunan nilai GH dapat dilakukan dengan perlakuan-perlakuan yang mampu menghilangkan kadar kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dari dalam air.

KH

Kesadahan karbonat atau KH merupakan besaran yang menunjukkan kandungan ion bikarbonat (HCO3) dan karbonat (CO3) di dalam air. Dalam akuarium air tawar, pada kisaran pH netral, ion bikarbonat lebih dominan, sedangkan pada akuarium laut, ion karbonat lebih berperan.

KH sering disebut sebagai alkalinitas yaitu suatu ekspresi dari  kemampuan air untuk mengikat kemasaman (ion-ion yang mampu mengikat H+). Oleh karena itu, dalam sistem air tawar, istilah kesadahan karbonat, pengikat kemasaman, kapasitas pem-bufferan asam, dan alkalinitas sering digunakan untuk menunjukkan hal yang sama.  Dalam hubungannya dengan kemampuan air mengikat kemasaman, KH berperan sebagai agen pem-buffer-an yang berfungsi untuk menjaga kestabilan pH.

KH pada umumnya sering dinyatakan sebagai derajat kekerasan dan diekspresikan dalam CaCO3 seperti halnya GH.

Kesadahan karbonat dapat diturunkan dengan merebus air yang bersangkutan, atau dengan melalukan air melewati gambut. Perlakuan perebusan air tentu saja tidak praktis, kecuali untuk akuarium ukuran kecil.

Untuk menaikkan kesadahan karbonat dapat dilakukan dengan menambahkan natrium bikarbonat (soda kue), atau kalsium karbonat.  Penambahan kalsium karbonat akan menaikan sekaligus baik KH maupun GH dengan proporsi yang sama.

Pemberian soda kue (NaHCO3) sebanyak satu sendok teh (sekitar 6 gram) pada air sebanyak 50 liter akan meningkatkan KH sebanyak 4 satuan tanpa disertai dengan kenaikan nilai GH.  Sedangkan pemberian satu sendok teh kalsium karbonat (CaCO3) (sekitar 4 gram) pada air sebanyak 50 liter akan menyebabkan kenaikan KH dan GH secara bersama-sama, masing-masing sebanyak 4 satuan. Berpatokan pada hal ini, maka pemberian secara kombinasi antara soda kue dan kalsium karbonat akan dapat menghasilkan nilai KH dan GH yang diinginkan.

Mengingat pengukuran bahan kimia dalam jumlah sedikit relatif sulit dilakukan, khususnya di rumah, maka sebaiknya gunakanlah  test kit untuk memastikan nilai KH dan GH yang telah dicapai.

Pembuferan karbonat diketahui efektif pada rasio 1:100 sampai 100:1.  Hal ini akan memberikan pH efektif pada selang 4.37 sampai dengan 8.37.  Selang angka ini secara kebetulan merupakan selang pH bagi hampir semua mahluk hidup akuatik.   Apabila ion bikarbonat ditambahkan, rasio basa terhadap asam akan meningkat, akibatnya pH pun meningkat.  Laju peningkatan pH ini akan ditentukan oleh nilai pH awal. Sebagai contoh,  kebutuhan jumlah ion karbonat yang perlu ditambahkan untuk meningkatkan satu satuan pH akan jauh lebih banyak apabila pH awalnya adalah 6.3, dibandingkan apabila hal yang sama dilakukan pada pH 7.5.

Kenaikan pH yang terjadi pada saat KH ditambahkan akan diimbangi oleh kadar CO2 terlarut dalam air. CO2 di dalam air akan membentuk sejumlah kecil asam karbonat dan bikarbonat yang selanjutkan akan cenderung menurunkan pH.  Mekanisme ini setidaknya dapat memberikan gambaran cara mengatur dan menyiasati pH dalam akuarium agar dapat memenuhi kriteria yang diinginkan.

Penanganan Kesadahan

Apabila air anda terlalu keras untuk ikan atau tanaman, air tersebut dapat dilunakan.  Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan  kesadahan. Yang paling baik adalah dengan menggunakan reverse osmosis (RO) atau deioniser (DI). Celakanya metode ini termasuk dalam metode yang mahal. Hasil reverse osmosis akan memiliki kesadahan = 0, oleh karena itu air ini perlu dicampur dengan air keran sedemikian rupa sehingga mencapai nilai kesadahan yang diperlukan.

Resin pelunak air komersial dapat digunakan dalam skala kecil, meskipun demikian tidak efektif digunakan untuk sekala besar.  Produk-produk komersial pengolah air untuk keperluan rumah tangga  pada umumnya tidak cocok digunakan, karena mereka sering menggunakan prinsip pertukaran kation dalam prosesnya. Dalam prosoes ini natrium (Na) pada umumnya digunakan sebagai ion penukar, sehingga pada akhirnya natrium akan berakumulasi pada hasil air hasil olahan. Kelebihan natrium (Na) dalam air akuarium merupakan hal yang tidak dikehendaki.

Pengenceran dengan menggunakan air destilasi (air suling/aquadest) dapat pula dilakukan untuk menurunkan kesadahan.

Penurunan secara alamiah dapat pula dilakukan dengan menggunakan jasa asam-asam organik (humik/fulvik) , asam ini berfungsi persis seperti halnya yang terjadi pada proses deionisasi yaitu dengan menangkap ion-ion dari air pada gugus-gusus karbonil yang terdapat pada asam organik (tanian). Beberapa media yang banyak mengandung asam-asam organik ini diantaranya adalah gambut yang berasal dari Spagnum (peat moss),  daun ketapang, kulit pohon Oak, dll.

Proses dengan gambut dan bahan organik lain biasanya akan menghasilkan warna air kecoklatan seperti air teh.  Sebelum gambut digunakan dianjurkan untuk direbus terlebih dahulu, agar organisme-organisme yang tidak dikehendaki hilang.

Menurunkan kesadahan dapat pula dilakukan dengan menanam tanaman “duck weed” atau Egeria densa.

Untuk meningkatkan kesadahan bisa dilakukan dengan memberikan dekorasi berbahan dasar kapur, seperti tufa atau pasir koral. Atau dengan melalukan air melewati pecahan marble (batu marmer) atau bahan berkapur lainnya.

EAlkalinitas

Alkalinitas secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan yang mampu menetralisir kemasamaan dalam air. Secara khusus, alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pem-bufffer-an dari ion bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air. Ketiga ion tersebut di dalam air akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga menurunkan kemasaman dan menaikan pH.  Alkalinitas biasanya dinyatakan dalam satuan ppm (mg/l) kalsium karbonat (CaCO3).  Air dengan kandungan kalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai alkalin, sedangkan air dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai lunak atau tingkat alkalinitas sedang.

Pada umumnya lingkungan yang baik bagi kehidupan ikan adalah dengan nilai alkalinitas diatas 20 ppm.

EKapasitas pem-buffer-an

Alam diberkahi dengan mekanisme pertahanan sedemikian rupa sehingga dapat bertahan terhadap berbagai perubahan, begitu juga dengan pH air. Mekanisme pertahanan pH terhadap berbagai perubahan dikenal dengan istilah Kapasitas pem-buffer-an pH.

Pertahanan pH air terhadap perubahan dilakukan melalui alkalinitas dengan proses sbb:

CO2 + H2O  H2CO3 H+ + HCO3 CO3+ 2H+

CO3 (karbonat) dalam mekanisme diatas melambangkan alkalinitas air. Sedangkan H(+) merupakan sumber kemasaman.

Mekanisme diatas merupakan reaksi bolak-balik, artinya reaksi bisa berjalan ke arah kanan (menghasilkan  H+) atau ke arah kiri (menghasilkan CO2).  Oleh karena itu, apabila seseorang mencoba menurunkan pH dengan memberikan “asam-asaman” artinya menambahkan  H+ saja maka (seperti ditunjukan mekanisme diatas).  H+ tersebut akan segera diikat oleh CO3 dan reaksi bergerak kekiri menghasilkan CO2, (CO2 ini akhirnya bisa lolos ke udara). Pada saat asam baru ditambahkan,  pH akan terukur rendah, tapi setelah beberapa waktu kemudian, ketika reaksi mulai bergerak ke kiri,pH akan kembali bergerak ke angka semula. Itulah hukum alam, dan karena itu pulalah kita masih bisa menemukan ikan di alam sampai saat sekarang.  Dengan demikian penurunan pH tidak akan efektif kalau hanya dilakukan dengan penambahan asam saja.  Untuk itu, cobalah pula usahakan untuk  menurunkan alkalinitasnya.  Kalaupun dipaksakan hanya dengan penambahan asam maka jumlahnya harus diberikan  dalam jumlah lebih banyak yaitu untuk mengatasi alkalinitasnya terlebih dahulu, seperti ditunjukkan pada reaksi diatas.

EpH

pH merupakan suatu ekpresi dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air.  Besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H. Sebagai contoh, kalau ada pernyataan pH 6, itu artinya konsentrasi H dalam air tersebut adalah 0.000001 bagian dari total larutan. Karena untuk menuliskan 0.000001 (bayangkan kalau pH 14) terlalu panjang maka orang melogaritmakan angka tersebut

sehingga manjadi -6.  Tetapi karena ada tanda – (negatif) dibelakang angka tersebut, yang dinilai kurang praktis, maka orang mengalikannya lagi dengan tanda – (minus) sehingga diperoleh angka positif 6. Oleh karena itu, pH diartikan

sebagai “-(minus) logaritma dari konsenstrasi ion H”.

pH = – log  (H+)

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa selisih satu satuan angka pH itu artinya perbedaan kosentrasinya adalah 10 kali lipat.  Dengan demikian, apabila selisih angkanya adalah 2 maka perbedaan konsentrasinya adalah 10×10 = 100 kali lipat. Sebagai contoh pH 5 menunjukkan konsentrasi H sebanyak 0.00001  atau 1/100000 (seperseratus ribu) sedangkan pH 6 = 0.000001 atau 1/1000000 (sepersejuta).

Dengan demikian kalau kita menurunkan pH dari 6 ke 5 artinya kita meningkatkan kepekatan iob H+ sebanyak 10 kali lipat.  Kalau kita misalkan pH itu gula, maka dengan menurunkan pH dari 6 ke 5, sama artinya bahwa larutan tersebut sekarang 10 kali lebih manis dari pada sebelumnya.

Tidak semua mahluk bisa bertahan terhadap perubahan nilai pH, untuk itu alam telah menyediakan mekanisma yang unik agar perubahan tidak tidak terjadi atau terjadi tetapi dengan cara perlahan. sistem pertahanan ini dikenal sebagai kapasitas pem-buffer-an.

Ph sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air.  Selain itu ikan dan mahluk-mahluk akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu, sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan mereka.

Besaran pH berkisar dari 0 (sangat asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalis). Nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang masam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan yang basa (alkalin).  Sedangkan pH = 7 disebut sebagai netral.

Fluktuasi pH air sangat di tentukan oleh alkalinitas air tersebut. Apabila alkalinitasnya tinggi maka air tersebut akan mudah mengembalikan pH-nya ke nilai semula, dari setiap “gangguan” terhadap pengubahan pH.

Dengan demikian kunci dari penurunan pH terletak pada penanganan alkalinitas  dan tingkat kesadahan air. Apabila hal ini telah dikuasai maka penurunan pH akan lebih mudah dilakukan.

FPenanganan pH

Seperti disebutkan sebelumnya, pengananan atau pengubahan nilai pH akan lebih efektif apabila alkalinitas ditanganai terlebih dahulu. Berikut adalah beberapa cara pangananan pH, yang kalau diperhatikan lebih jauh, cenderung mengarah pada penanganan kesadahan atau alkalinitas.

FPenurunan pH

Untuk menurunkan pH, pertama kali harus dilakukan pengukuran KH.  Apabila nilai KH terlalu tinggi (12 atau lebih) maka KH tersebut perlu diturunkan terleibh dahulu, yang biasanya secara otomatis akan diikuti oleh menurunnya nilai pH. Apabila nilia pH terlalu tinggi (lebih dari  sedangkan KH tergolong bagus ( antara 6 -12)maka hal ini merupakan petunjuk terjadinya proses keseimbangan yang buruk.

Penurunan pH dapat dilakukan dengan melalukan air melewati gambut (peat), biasanya yang digunakan adalah peat moss (gambut yang berasal dari moss). bisa juga dilakukan dengan mengganti sebagaian air dengan air yang berkesadahan rendah, air hujan atau air yang direbus, air bebas ion, atau air suling (air destilata).

Selain itu bisa juga dapat dilakukan dengan menambahkan bogwood kedalam akuairum. Bogwood adalah semacam kayu yang dapat memliki kemampuan menjerap kesadahan.  Sama fungsinya seperti daun ketapang, kayu pohon asam dan sejenisnya.

FPeningkatan pH

Menaikkan pH dapat dilakukan dengan memberikan aerasi yang intensif, melewatkan air melewati pecahan koral, pecahan kulit kerang atau potongan batu kapur. Atau dengan menambahkan dekorasi berbahan dasar kapur seperti tufa, atau pasir koral. Atau dengan melakukan penggantian air.

EKarbon Dioksida (CO2)

Karbon dioksida dalam air pada umumnya merupakan hasil respirasi dari ikan dan phytoplankton. Kadar CO2 lebih tinggi dari 10 ppm diketahui menunjukkan bersifat racun bagi ikan, beberapa bukti menunjukkan bahwa karbon dioksida berfungsi sebagai anestesi bagi ikan.  Kadar karbon dioksida tinggi juga menunjukkan lingkungan air yang asam meskipun demikian karbon dioksida diperlukan dalam proses pem-buffer-an .

Apabila pH dalam suatu akuarium dikendalikan, terutama, oleh sistem pem-buffer-an karbonat, maka hubungan pH, KH dan CO2 terlaut akan merupakan hubungan yang tetap.  Dengan demikian,  salah satu dari parameter tersebut dapat diatur dengan mengatur parameter yang lain.  Sebagai contoh nilai pH dapat diatur dengan mangatur KH atau kadar CO2.  Suatu sistem CO2 injektor, misalnya, dapat digunakan untuk mengatur pH dengan cara mengatur injeksi CO2 sedemikian rupa apabila nilai pH nya mencapai nilai tertentu.  Dalam hal ini KH dibuat tetap.  CO2 digunakan oleh tanaman atau terdifusi ke atmosfer, akibatnya pH naik.  Dengan sistem otomatis seperti disebutkan sebelumnya maka sistem injeksi CO2 akan berjalan sedemikian rupa disekitar nilai pH tertentu, untuk menjaga kadar CO2 yang memadai.

ESalinitas

Salinitas merupakan parameter penunjuk jumlah bahan terlarut dalam air.  Dalam pengukuran salinitas turut pula diperhitungkan komponen GH dan KH disamping bahan-bahan terlarut lainnya seperti natrium. Informasi kadar salintas sangat penting artinya dalam akuairum laut.  Sedangkan dalam akuarium air tawar mengetahui pH,KH dan GH sudah memadai.

Salinitas pada umumnya dinyatakan sebagai berat jenis (specific gravity), yaitu rasio antara  berat larutan terhadap berat air murni dalam volume yang sama.   Rasio ini dihitung berdasarkan konidisi suhu 15°C. Pengukuran salinitas dalam kehidupan sehari-hari biasanya menggunakan hydrometer, yang telah dikalibrasikan untuk digunakan pada suhu kamar.

Salah satu komponen salinitas yang tidak tercakup baik oleh KH dan GH adalah kadar natrium. Beberapa ikan air tawar dapat menerima (toleran) kehadiran sejumlah kecil natrium dalam bentuk garam.  Bahkan sampai tahap tertentu digunakan sebagak terapi pengobatan akibat parasit seperti ich. Sedangkan beberapa spesies yang lain sama sekali tidak toleran terhadap garam.  Jenis-jenis ikan tidak bersisik dan corydoras diketahui sangat sensitif terhadap garam dibandingkan dengan kebanyakan ikan air tawar lainnya.

3.Penyebab dan Dampak Pencemaran Air

Sumber pencemaran air yang paling umum adalah :

NLimbah Pemukiman

NLimbah Pertanian

NLimbah Industri

a. Limbah Pemukiman

Limbah pemukiman mengandung limbah domestik berupa sampah organik dan sampah anorganik serta deterjen. Sampah organik adalah sampah yang dapat diuraikan atau dibusukkan oleh bakteri. Contohnya sisa-sisa sayuran, buah-buahan, dan daun-daunan. Sedangkan sampah anorganik sepertikertas, plastik, gelas atau kaca, kain, kayu-kayuan, logam, karet, dan kulit. Sampah-sampah ini tidak dapat diuraikan oleh bakteri (non biodegrable). Sampah organik yang dibuang ke sungai menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen terlarut, karena sebagian besar digunakan bakteri untuk proses pembusukannya. Apabila sampah anorganik yang dibuang ke sungai, cahaya matahari dapat terhalang dan menghambat proses fotosintesis dari tumbuhan air dan alga, yang menghasilkan oksigen. Tentunya anda pernah melihat permukaan air sungai atau danau yang ditutupi buih deterjen. Deterjen merupakan limbah pemukiman yang paling potensial mencemari air. Pada saat ini hampir setiap rumah tangga menggunakan deterjen, padahal limbah deterjen sangat sukar diuraikan oleh bakteri.

Sehingga tetap aktif untuk jangka waktu yang lama. Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau. Fosfat ini merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis.

Jika tumbuhan air ini mati, akan terjadi proses pembusukan yang menghabiskan persediaan oksigen dan pengendapan bahan-bahan yang menyebabkan pendangkalan.

b. Limbah Pertanian

Pupuk dan pestisida biasa digunakan para petani untuk merawat tanamannya. Namun pemakaian pupuk dan pestisida yang berlebihan dapat mencemari air. Limbah pupuk mengandung fosfat yang dapat merangsang pertumbuhan gulma air seperti ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan gulma air yang tidak terkendali ini menimbulkan dampak seperti yang diakibatkan pencemaran oleh deterjen.

Limbah pestisida mempunyai aktifitas dalam jangka waktu yang lama dan ketika terbawa aliran air keluar dari daerah pertanian, dapat mematikan hewan yang bukan sasaran seperti ikan, udang dan hewan air lainnya. Pestisida mempunyai sifat relatif tidak larut dalam air, tetapi mudah larut dan cenderung konsentrasinya meningkat dalam lemak dan sel-sel tubuh mahluk hidup disebut Biological Amplification, sehingga apabila masuk dalam rantai makanan konsentrasinya makin tinggi dan yang tertinggi adalah pada konsumen puncak. Contohnya ketika di dalam tubuh ikan kadarnya 6 ppm, di dalam tubuh burung pemakan ikan kadarnya naik menjadi 100 ppm dan akan meningkat terus sampai konsumen puncak.

c. Limbah Industri

Limbah industri sangat potensial sebagai penyebab terjadinya pencemaran air. Pada umumnya limbah industri mengandung limbah B3, yaitu bahan berbahaya dan beracun. Menurut PP 18 tahun 99 pasal 1, limbah B3 adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang dapat mencemarkan atau merusak lingkungan hidup sehingga membahayakan kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk lainnya. Karakteristik limbah B3 adalah korosif/ menyebabkan karat, mudah terbakar dan meledak, bersifat toksik/ beracun dan menyebabkan infeksi/ penyakit. Limbah industri yang berbahaya antara lain yang mengandung logam dan cairan asam. Misalnya limbah yang dihasilkan industri pelapisan logam, yang mengandung tembaga dan nikel serta cairan asam sianida, asam borat, asam kromat, asam nitrat dan asam fosfat. Limbah ini bersifat korosif, dapat mematikan tumbuhan dan hewan air. Pada manusia menyebabkan iritasi pada kulit dan mata, mengganggu pernafasan dan menyebabkan kanker.

Logam yang paling berbahaya dari limbah industri adalah merkuri atau yang dikenal juga sebagai air raksa (Hg) atau air perak. Limbah yang mengandung merkurei selain berasal dari industri logam juga berasal dari industri kosmetik, batu baterai, plastik dan sebagainya. Di Jepang antara tahun 1953- 1960, lebih dari 100 orang meninggal atau cacat karena mengkonsumsi ikan yang berasal dari Teluk Minamata. Teluk ini tercemar merkuri yang bearasal dari sebuah pabrik plastik. Senyawa merkuri yang terlarut dalam air masuk melalui rantai makanan, yaitu mula-mula masuk ke dalam tubuh mikroorganisme yang kemudian dimakan yang dikonsumsi manusia. Bila merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pencernaan, dapat menyebabkan kerusakan akut pada ginjal sedangkan pada anak-anak dapat menyebabkan Pink Disease/ acrodynia, alergi kulit dan kawasaki disease/ mucocutaneous lymph node syndrome.

Selain itu, yang terdapat pada daerah tertentu yaitu :

NLimbah Pertambangan

Limbah pertambangan seperti batubara biasanya tercemar asam sulfat dan senyawa besi, yang dapat mengalir ke luar daerah pertambangan. Air yang mengandung kedua senyawa ini dapat berubah menjadi asam. Bila air yang bersifat asam ini melewati daerah batuan karang/ kapur akan melarutkan senyawa Ca dan Mg dari batuan tersebut. Selanjutnya senyawa Ca dan Mg yang larut terbawa air akan memberi efek terjadinya AIR SADAH, yang tidak bisa digunakan untuk mencuci karena sabun tidak bisa berbuih. Bila dipaksakan akan memboroskan sabun, karena sabun tidak akan berbuih sebelum semua ion Ca dan Mg mengendap. Limbah pertambangan yang bersifat asam bisa menyebabkan korosi dan melarutkan logam-logam sehingga air yang dicemari bersifat racun dan dapat memusnahkan kehidupan akuatik.

Selain pertambangan batubara, pertambangan lain yang menghasilkan limbah berbahaya adalah pertambangan emas. Pertambangan emas menghasilkan limbah yang mengandung merkuri, yang banyak digunakan penambang emas tradisional atau penambang emas tanpa izin, untuk memproses bijih emas. Para penambang ini umumnya kurang mempedulikan dampak limbah yang mengandung merkuri karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki.

Biasanya mereka membuang dan mengalirkan limbah bekas proses pengolahan pengolahan ke selokan, parit, kolam atau sungai. Merkuri tersebut selanjutnya berubah menjadi metil merkuri karena proses alamiah. Bila senyawa metil merkuri masuk ke dalam tubuh manusiamelalui media air, akan menyebabkan keracunan seperti yang dialami para korban Tragedi Minamata.



Hello world!

Posted: May 21, 2010 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!